Tahapan penyusunan ransum pakan ternak



Bagaimana cara yang tepat dalam Tahapan penyusunan ransum pakan ternak ? simak berikut ini...

Formulasi ransum pakan ternak

Formulasi ransum adalah salah satu cara pemenuhan gizi pakan yang berkualitas dan dicari harga yang ekonomis, dengan cara menggabungkan bahan pakan yang mempunyai keunggulan disatukan menjadi sebuah formula. Formula dasar yang biasa digunakan adalah penggabungan dari hijauan dan konsentrat (makanan penguat).

 Formulasi ransum diberikan pada ternak yang masih pada proses masa dewasa tubuh atau perkembangan otot dan lemak tubuh, serta kebutuhan akan sumber energi, protein, mineral dan vitamin tercukupi dalam 24 jam (Christiyanto, 2011).

Ransum yang seimbang sesuai dengan kebutuhan ternak merupakan syarat mutlak dihasilkannya produktivitas yang optimal. Penyusunan ransum tidak boleh merugikan peternak, misalnya peningkatan berat badan yang tidak dapat memenuhi target, salah pemberian pakan karena terlalu banyak dalam memperkirakan kandungan nutrien pakan ataupun karena adanya zat anti nutrisi (Christiyanto, 2011).

Tahapan menyusun formulasi ransum adalah pertama buat daftar bahan pakan yang akan digunakan, kandungan nutrisinya (energi, potein), harga per unit berat, harga per unit energi dan harga per unit protein. Tentukan standar kualitas nutrisi pakan penguat yang akan dibuat. Memformulasi, dilakukan pada form formulasi.

Tentukan sebanyak 2% (pada kolom %) bahan pakan sebagai sumber vitamin dan mineral. Tentukan sebanyak 30% bahan pakan yang mempunyai kandungan energi lebih tinggi daripada kandungan energi pakan penguat, tetapi harga per unit energinya yang paling murah (dapat digunakan lebih dari 1 macam bahan pakan).

Tentukan sebanyak 18% bahan pakan yang mempunyai kandungan protein lebih tinggi daripada kandungan protein pakan penguat, tetapi harga per unit proteinnya paling murah. Jumlahkan (% bahan, Kcal energi, % protein dan harganya), mak 50% formula sudah diperoleh.

Lakukan pengecekan kualitas dengan membandingkan kualitas nutrisi 0% formula dengan kualitas nutrisi 50% pakan penguat (Sembiring, 2004).

Menyiapkan tabel kebutuhan zat nutrien

Bahan pakan harus dapat menyediakan nutrien yang diperlukan sebagai komponen pembangun serta pengganti sel – sel tubuh yang rusak serta menciptakan hasil produksinya. Kebutuhan nutrien dipengaruhi oleh beberapa hal antara lain: tingkat pertumbuhan (status faali); ukuran tubuh ternak, lingkungan, keturunan, penyakit, parasit, jenis ternak, ketidakserasian pakan dan kekurangan nutrien. Kebutuhan zat nutrien ini dinyatakan dengan kandungan energi, protein, vitamin dan mineral (Tillman et al., 1998).

Pakan harus mampu menyediakan hampir semua nutrien yang diperlukan oleh tubuh ternak dalam suatu perbandinganyang serasi sesuai dengan status faali; pakan ternak tidak perlu berlebihan bahkan harus efisien sehingga dapat memberikan keuntungan. Terdapat empat hal penting yang harus diperhatikan dalam menentukan kebutuhan zat nutrien pada ternak, yaitu: jenis kelamin (jantan atau betina), berat badan, taraf pertumbuhan/status fisiologis (pedet, sapihan, bunting dan lain – lain) serta tingkat produksi.

Banyak tabel kebutuhan zat nutrien yang telah diterbitkan namun tabel kebutuhan yang diterbitkan oleh “National Academics of Science” yang disebut dengan National research council (NRC) adalah tabel yang banyak diadopsi. Namun demikian terdapat patokan yang mudah untuk menghitung kebutuhan pakan, yaitu kebutuhan bahan kering (BK) pakan/ekor/hari diperkirakan sebanyak 2,8 – 3 % BB (Kearl, 1982).

Menyiapkan tabel komposisi/kandungan nutrien bahan pakan

Selain rumput lapangan/legum, sumber pakan yang cukup potensial adalah hasil sisa (limbah) pertanian tanam pangan. Pakan seimbang, selain harus dapat memenuhi kebutuhan zat nutrien ternak harganya juga harus murah; oleh sebab itu sebaiknya menggunakan bahan pakan lokal yang tersedia ditempat.

Hindari atau minimalkan bahan pakan yang berasal dari luar daerah yang pada umumnya mahal karena ada tambahan biaya transport; namun bisa digunakan bila memang harganya murah.

Hal lain yang harus dipertimbangkan adalah penggunaan bahan pakan utama yang berasal dari import. Pengunaannya harus dihindari ataupun dibatasi seperti jagung, bungkil kedelai, tepung ikan maupun tepung tulang. Sebanyak 40%-60% kebutuhan jagung untuk pakan, 60 – 70 % tepung ikan dan 100% bungkil kedelai masih berasal dari impor.

Optimalisasi penggunaan bahan pakan asal limbah pertanian, perkebunan maupun agroindustri diharapkan selain menurunkan biaya ransum juga mampu menghasilkan produktivitas secara optimal.

Syamsu et al., (2003) menyatakan bahwa limbah pertanian memiliki potensi yang cukup besar sebagai sumber pakan, yaitu diperkirakan produksi 51.546.297,3 ton/th. Produksi terbesar adalah jerami padi (85,81%) kemudian berturut – turut adalah jerami jagung (5,84%), jerami kacang tanah (2,84%), jerami kedelai (2,54%), pucuk ubi kayu (2,29%) dan jerami ubi jalar (0,68%).

Limbah pertanian ini mempunyai kandungan nitrogen (N) yang rendah, kandungan selulosa (karbohidrat terstruktur) yang tinggi serta pada umumnya kandungan mineral terutama kalsium (Ca), fosfor (P), Cobalt (Co), tembaga (Cu), sulfur (S) dan sodium (Na) rendah. Karakteristik tersebut mengakibatkan kecernaan rendah serta dapat membatasi konsumsi pakan.

Suplementasi dengan multinutrien perlu dilakukan untuk membentuk keseimbangan kondisi rumen dan memenuhi kebutuhan zat nutrien (Preston dan Leng, 1987). Keseimbangan kondisi rumen dibutuhkan untuk meningkatkan kecernaan sehingga dapat meningkatkan efisiensi pakan.

Metode penyusunan ransum

Secara garis besar ada lima macam metode penyusunan ransum, kelima metode penyusunan ransom tersebut adalah 1) Trial and error method, 2) Pearson’s square method, 3) Exact method, 4) Simultaneous equation method, 5) Linear programming method. Masing-masing metode tersebut mempunyai keistemewaan sendiri-sendiri. Oleh karena itu metode mana yang akan digunakan adalah harus sesuai dengan kondisi dan situasi yang ada pada saat itu (Kamal, 1998).

Tujuan penyusunan ransum bagi ternak adalah: untuk mensuplai nutrien yang meliputi energi, protein, vitamin, mineral dan yang lain agar nutrien yang dibutuhkan ternak tersebut terpenuhi sesuai dengan tujuan pemeliharaannya (Zuprizal dan Kamal, 2005).

Menurut Wahju (1997), setelah menentukan tujuan dari penyusunan ransum, maka langkah selanjutnya adalah memilih bahan-bahan makanan yang ada di daerah itu. Hal penting yang harus tersedia adalah bahan makanan yang mengandung sumber protein, energi, vitamin dan mineral.

Praktikum ini menggunakan metode trial and error method. Metode ini mepunyai beberapa langkah yang harus dilakukan yaitu memilih macam bahan pakan yang akan digunakan, mencari kandungan nutrien penyusun masing-masing bahan pakan yang akan digunakan, dan menghitung berulang kali sampai mendapatkan hasil susunan ransum yang sesuai ataupun mendekati ketentuan yang dikehendaki..

Trial and error method bila ditinjau dari cara perhitungannya merupakan metode yang kurang praktis, apalagi mereka yang tidak selalu berkecimpung dalam penyusunan ransum akan mendapatkan kesulitan (Kamal, 1998).

Menurut Umiyasih (2007), metode trial and error memiliki keuntungan dalam mempermudah komposisi (persentase) bahan pakan dalam ransum dengan mempertimbangkan kriteria rasional, ekonomis, dan aplikatip. Metode ini dapat dilakukan dengan menggunakan software untuk penyusunan ransum seperti EXCEL.

Pencampuran bahan pakan

Penyampuran bahan pakan terutama dalam membuat konsentrat, dapat dilakukan di atas lantai atau dengan menggunakan mesin (Umiyasih, 2007).

Daftar Pustaka

Christiyanto, M., dan Sunarso. 2011. Manajemen Pakan. Penebar Swadaya. Jakarta.
Sembiring, R., P. H. Siagian., R. Priyanto. 2004 Kualitas Daging Babi dengan Pemberian Zeolit dan Tepung Darah Sebagai Sumber Protein dalam Ransum. Departemen Ilmu Produksi Ternak. Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor.
Tilman, Hari hartadi, Reksohadiprodjo. 1998. Ilmu Makanan Ternak Dasar. Cetakan ke-5. Gadjah Mada University Press. Fakultas Peternakan UGM.
Kamal, M. 1998. Nutrisi Ternak Dasar. Laboratorium Makanan Ternak. Fakultas Peternakan UGM. Yogyakarta.
Zuprizal dan M. Kamal. 2005. Nutrisi dan Pakan Unggas. Jurusan Nutrisi dan Makanan Ternak, Fakultas Peternakan, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.
Wahju, J. 1997. Ilmu Nutrisi Unggas. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.
National Research Council, Subcommittee on Swine Nutrition, et all. 1998. Nutrient Requirements of Swine. Tenth Revised Edition. National Academy Press, Washington D.C.
Sinaga, S. 2002. Performans Produksi Babi Akibat Tingkat Pemberian Manure Ayam Petelur dan Asam Amino L-Lisin Sebagai Bahan Pakan Alternatif. Thesis. Universitas Padjajaran. Bandung.
Lubis, D. A.1999. Ilmu Makanan Ternak. Cetakan Ulang. Pembangunan. Jakarta.
Rasyaf, M. 2002. Pengelolaan Peternakan Unggas Pedaging. Kanisius. Yogyakarta.






Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apakah ayam betina Perlu Ayam Jantan untuk Bertelur?

Perusahaan Desain & Pengembangan Web di Jogja